Pendeteksian Anomali 1
Dokumentasi alur kerja deteksi anomali data
01 Tabrakan Waktu Status (Overlap)
Sistem melakukan audit berkala pada log induk aktivitas tambang untuk memastikan tidak ada satu unit pun yang mencatat dua status atau aktivitas yang berbeda pada jam yang sama (misalnya: unit tercatat sedang beroperasi sekaligus tercatat sedang rusak/breakdown secara bersamaan).
1. Verifikasi Log Valid
Sebelum melakukan perbandingan, sistem memvalidasi bahwa jam mulai dan jam selesai pada setiap catatan lapangan terisi dengan benar. Sistem secara otomatis membuang catatan yang tidak masuk akal di mana jam selesai terinput mendahului jam mulai.
2. Perbandingan Lintas Catatan
Sistem mengelompokkan catatan berdasarkan tanggal, shift, jenis alat, dan nomor lambung unit yang sama. Catatan pertama (Catatan A) akan disilangkan dengan catatan berikutnya (Catatan B) untuk mendeteksi apakah ada potongan waktu yang saling bertumpuk.
Metode Penghitungan Durasi Tabrakan (Overlap Duration)
Jika tabrakan waktu terdeteksi, sistem secara otomatis mengunci dan menghitung berapa menit kehilangan akurasi data yang terjadi dengan membandingkan titik awal terjauh dan titik akhir terdekat dari kedua catatan tersebut.
- Identitas Masalah: Jenis Anomali ("Overlap Waktu") beserta Tanggal, Shift, Tipe, dan Nomor Unit.
- Detail Catatan Bentrok 1: Status (Operasi/Standby/dll), Jam Kerja, Angka Hour Meter (HM), beserta nomor referensi dokumen asal.
- Detail Catatan Bentrok 2: Status tandingan yang bertumpukan, Jam Kerja, Angka HM, beserta nomor referensi dokumen tandingan.
- Pesan Solusi Lapangan: Rekomendasi otomatis bagi pengawas untuk memeriksa ulang lembar catatan lapangan pada unit terkait.
Pendeteksian Anomali 2
Dokumentasi alur kerja deteksi anomali data
02 Duplikasi Perjalanan Truk (Ritase Waktu Sama)
Sistem melakukan audit pada Tabel Ritase Overburden (tabel_ritase_ob) untuk mendeteksi apabila ada satu unit Truk Pengangkut (Hauler) yang mencatat lebih dari 1 perjalanan (*trip/ritase*) tepat pada menit yang sama. Kondisi ini secara fisik tidak mungkin terjadi di lapangan dan mengindikasikan adanya kesalahan input ganda oleh pengawas atau gangguan sistem pengiriman data alat berat.
1. Pengelompokan & Filter Duplikat
Sistem memindai seluruh catatan perjalanan dan mengelompokkannya berdasarkan kesamaan tanggal, shift, nomor lambung truk, dan menit jam ritase. Jika ditemukan kombinasi tersebut memiliki jumlah data lebih dari satu, sistem langsung menguncinya sebagai temuan anomali.
2. Identifikasi Unit Loader Pendamping
Setelah mendeteksi waktu yang kembar, sistem melakukan penelusuran lapis kedua untuk melihat unit Alat Muat (Loader) mana saja yang terdaftar mengisi truk tersebut pada baris-baris data yang bermasalah.
Metode Penggabungan Informasi Data Rusak (Data Aggregation)
Agar laporan tidak dipenuhi oleh baris data yang berulang, sistem mengemas seluruh baris temuan kembar tersebut menjadi satu rangkuman informasi tunggal dengan menggabungkan nama-nama unit pendamping dan ID dokumen asal menggunakan tanda koma.
• Nomor Lambung Truk: HL-08
• Jam Ritase Kembar: 09:15
• Jumlah Terdeteksi: 2 Ritase
• Daftar Unit Loader: EXC-201, EXC-201 (atau unit Loader berbeda jika salah input)
• Referensi ID Dokumen: 4501, 4502 (Sistem menyatukan ID untuk mempermudah penghapusan)
"Hauler [Nomor Truk] memiliki [Jumlah] ritase pada waktu yang sama [Jam Ritase]."
Pendeteksian Anomali 3
Dokumentasi alur kerja deteksi anomali data
03 Jam Perjalanan Mundur (Urutan Waktu Tidak Konsisten)
Sistem melakukan audit kronologis pada Tabel Ritase Overburden (tabel_ritase_ob) untuk memastikan bahwa setiap perjalanan (*trip*) yang diinput belakangan memiliki waktu jam yang maju ke depan, bukan mundur ke belakang. Waktu yang berjalan mundur mengindikasikan adanya kesalahan input jam oleh pengawas lapangan saat mencatat urutan ritase armada.
1. Pemantauan Catatan Berdampingan
Sistem mengurutkan seluruh trip berdasarkan tanggal, shift, dan nomor lambung truk. Selama membaca data, menit perjalanan saat ini akan terus-menerus dibandingkan dengan menit perjalanan sesaat sebelumnya dalam kelompok unit yang sama.
2. Toleransi Awal Siklus Shift 1
Sistem secara cerdas memaklumi jika jam terlihat mundur dari sore (di atas pukul 16:00) ke pagi hari berikutnya (di bawah pukul 08:00) pada Shift 1. Kondisi ini dianggap sebagai awal siklus hari baru yang sah (*Reset Siklus*) dan otomatis diabaikan agar tidak dianggap error.
Metode Penghitungan Defisit Menit (Time Reverse Calculation)
Di luar pengecualian awal siklus, apabila menit data sekarang terbukti lebih kecil dari menit data sebelumnya, sistem langsung menetapkannya sebagai anomali aktivitas dan mengunci jumlah selisih kemundurannya.
- Identitas Inti: Jenis ("Anomali Aktivitas") dan Sub-Jenis ("Ritase Hauler Urutan Waktu Tidak Konsisten").
- Pelacakan Waktu: Jam pencatatan sebelumnya, jam pencatatan sekarang, beserta total hitungan selisih_menit mundurnya.
- Informasi Loader Lapangan: Nama unit Alat Muat (*Loader*) sebelumnya dan Alat Muat sekarang sebagai referensi silang lokasi kerja.
- ID Dokumen Asal: Menyimpan nomor ID data sebelum dan data sekarang secara berpasangan guna mempermudah proses perbaikan posisi data.
"Hauler [Nomor Truk] mencatat waktu ritase [Jam Sekarang] setelah waktu [Jam Sebelumnya]. Urutan waktu mundur [Selisih] menit."
Pendeteksian Anomali 4
Dokumentasi alur kerja deteksi anomali data
04 Benturan Ritase dengan Log Induk (ShiftLOG Vs MCCLog)
Sistem melakukan audit silang instan di dalam memori untuk mencocokkan setiap menit perjalanan (*trip*) Overburden dengan Lembar Log Induk Kontrol Tambang (MCCLog). Fungsi utama audit ini adalah mendeteksi ketidaksesuaian di mana sebuah armada tercatat masih mengangkut material, padahal di dalam log induk kontrol unit tersebut dilaporkan sedang berhenti beroperasi (seperti sedang rusak, perawatan, atau berstatus siaga).
1. Sinkronisasi Unit Lintas Tabel
Sistem memindai data log kontrol yang tersimpan di memori. Hanya data yang memiliki kecocokan mutlak pada parameter tanggal, shift kerja, dan nomor lambung unit yang akan disilangkan dengan menit jam ritase di lapangan.
2. Validasi Durasi Batas Status
Sebelum mendeteksi benturan, sistem memastikan status di log induk memiliki durasi yang valid, di mana menit jam selesai status harus secara logis berada setelah menit jam mulai status tersebut diinput.
Logika Deteksi Masuk Garis Rentang (Status Intrusion Detection)
Benturan aktivitas dinyatakan terjadi apabila menit jam pengangkutan material Overburden terbukti menyusup masuk ke dalam rentang waktu non-aktif unit yang sudah dikunci oleh log induk pusat kontrol tambang.
- Identitas Pelanggaran: Jenis Anomali ("Overburden Vs MCCLog") lengkap dengan posisi peran unit saat bekerja (sebagai *Loader* atau *Hauler*).
- Data Lapangan Bermasalah: Menit jam ritase beserta nomor referensi ID asli dokumen pengangkutan material tambang (tabel_ritase_ob).
- Data Log Kontrol Tandingan: Status tandingan (Contoh: Breakdown / Rusak), sub-kategori kerusakan, jam awal-akhir status diinput, dan total durasi menit non-aktif unit.
- Referensi Dokumen Induk: ID dokumen tandingan beserta nama tabel asal dokumen induk dari pusat kontrol guna mempermudah proses investigasi silang.
"Ritase Overburden tercatat saat unit berstatus [Status Log Induk Kontrol]."
Pendeteksian Anomali 5
Dokumentasi alur kerja deteksi anomali data
05 Penyimpangan Angka Meteran Mesin (Koreksi HM Operation)
Sistem melakukan pemeriksaan ketat pada Tabel Operasi (tabel_operation) untuk memverifikasi kebenaran angka Hour Meter (HM) alat berat. Audit ini sangat penting untuk mendeteksi tiga jenis kesalahan pengisian angka meteran mesin yang sering terjadi akibat kelalaian input manual oleh pengawas di lapangan.
Kondisi A: Angka Awal Melebihi Angka Akhir (HM Start > HM Finish)
Sistem mengunci data jika angka awal meteran mesin terinput lebih besar daripada angka penutupan. Kondisi ini membuat kalkulasi durasi bernilai minus, sehingga sistem otomatis mencatat nilai defisit tersebut sebagai laporan anomali.
Kondisi B: Angka Meteran Stagnan / Tidak Bergerak (HM Start = HM Finish)
Sistem mendeteksi entri di mana angka awal dan akhir diisi kembar. Hal ini mengindikasikan unit dilaporkan aktif bekerja namun meteran jam mesinnya tidak bertambah sama sekali (selisih durasi = 0), yang menandakan adanya kesalahan tulis data.
Kondisi C: Angka HM Mundur Lintas Shift Kerja
Sistem melakukan pemantauan berurutan untuk unit yang sama pada tanggal yang sama. Jika angka awal mesin di shift sekarang (HM Start) tercatat lebih rendah dari angka penutupan shift sebelumnya (HM Finish Sebelumnya), sistem akan mengunci data tersebut sebagai anomali jam mesin turun.
- Klasifikasi Error: Jenis ("Koreksi HM Operation") dan Sub-Jenis sesuai dengan 3 kondisi pelanggaran di atas.
- Variabel Pembanding: Nilai angka HM awal, angka HM akhir, jam catatan, serta total nilai penyimpangannya (selisih_hm).
- Pelacak Lintas Shift: Menyimpan angka penutupan shift lalu beserta ID referensi datanya untuk memudahkan rekonsiliasi data yang meloncat turun.
- Identitas Sumber Dokumen: Nomor ID baris data yang bermasalah pada tabel_operation agar operator bisa langsung melacak baris data yang salah ketik.
• Kasus A/B: "HM Start [Angka Awal] lebih besar dari HM Finish [Angka Akhir]" atau "HM Start dan HM Finish sama, yaitu [Angka]"
• Kasus C: "HM unit [Nomor Unit] turun dari [HM Sebelumnya] menjadi [HM Sekarang] pada [Nama Shift]"
Pendeteksian Anomali 6
Dokumentasi alur kerja deteksi anomali data
06 Penyimpangan Angka Meteran Pengisian Solar (Koreksi HM Refueling)
Sistem melakukan audit kronologis penutupan pada Tabel Pengisian Solar (tabel_refueling) untuk memastikan validitas angka Hour Meter (HM) unit saat solar dimasukkan. Langkah ini mendeteksi dua indikasi kesalahan pencatatan meteran mesin yang dapat merusak akurasi perhitungan rasio efisiensi bahan bakar (Liter/Jam) harian maupun bulanan.
Kondisi A: Angka Meteran Pengisian Kembar (HM Refueling Stagnan)
Sistem mengunci data jika angka HM pada pengisian saat ini terdeteksi sama persis dengan angka HM pada riwayat pengisian sebelumnya untuk unit truk yang sama. Kondisi ini mengindikasikan operator tangki solar lupa memeriksa meteran mesin aktual dan menyalin ulang angka lama.
Kondisi B: Angka Meteran Pengisian Menurun (HM Refueling Mundur)
Sistem memantau riwayat pengisian unit secara berurutan berdasarkan waktu. Jika angka HM pengisian sekarang (HM Refueling Sekarang) tercatat lebih kecil dari pengisian sebelumnya, sistem otomatis mencatat nilai penurunan tersebut sebagai anomali jam mesin turun.
- Klasifikasi Masalah: Jenis ("Koreksi HM Refueling") beserta Sub-Jenis ("HM Sama" atau "HM Sekarang Lebih Kecil").
- Pelacakan Jam Mesin: Nilai angka HM pengisian sebelumnya, angka HM pengisian sekarang, serta total selisih deviasinya (selisih_hm).
- ID Dokumen Berpasangan: Menyimpan nomor dokumen ID pengisian sebelumnya dan ID pengisian sekarang guna mempermudah proses koreksi atau pembatalan salah satu data yang keliru.
- Sumber Tabel Rujukan: Terkunci otomatis ke tabel_refueling untuk mempercepat investigasi data oleh tim admin logistik BBM.
• Kasus A (HM Kembar): "HM Refueling unit [Nomor Unit] sama dengan HM sebelumnya, yaitu [Angka HM]"
• Kasus B (HM Menurun): "HM Refueling unit [Nomor Unit] turun dari [HM Sebelumnya] menjadi [HM Sekarang] pada [Nama Shift]"